Karma

Sebenarnya saya ingin menulis ini sejak lama, tapi karena sangat sibuk dengan syuting film terbaru saya yang begitu menguras waktu, jadwal konser band saya, jadwal… Ah sudahlah.. Kalian pasti tidak akan percaya. Huh.

Karma. What you give is what you get in return. Apa yang kita lakukan, akan terbalas secara misterius oleh semesta. Karma adalah kepercayaan masyarakat India kuno yang terus dilestarikan ajarannya. Dalam konsep “karma”, semua yang dialami manusia adalah hasil dari tindakan kehidupan masa lalu dan sekarang. Efek karma dari semua perbuatan dipandang sebagai aktif membentuk masa lalu, sekarang, dan pengalaman masa depan. Hasil atau ‘buah’ dari tindakan disebut karma-phala.

Karma adalah hukum sebab akibat, karenanya dia begitu indah sekaligus berbahaya. Positif dan negatif. Jujur, saya lebih mempercayai karma daripada konsep agama. Menurut saya konsep agama pun didasarkan pada teori tentang karma. Berbuat baik akan mendapatkan surga, berbuat jahat akan mendapatkan neraka. Begitu pun pada ayat-ayat dalam kitab suci, selalu ada konsep tentang karma disana. Ya, karma itu ada. Menjadi hukum alam yang tak terbantahkan dan selalu ada dalam setiap kehidupan manusia.

Saya mulai menyadarinya ketika pada suatu waktu, saat itu saya masih SMP, ganteng banget dan menjadi idola remaja se-Indonesia timur, mengalami suatu peristiwa yang mengenalkan saya dengan hukum sebab-akibat. Saya menemukan uang 10 ribu perak di jalan! Men, nilai 10 ribu saat itu gede banget tauk. Sebagai anak kecil yang uang bulanannya per bulan 10 ribu perak, menemukan uang itu adalah suatu berkah yang luar biasa. Bayangkan, ada surplus untuk uang jajan 1 bulan. Setelah menatapnya cukup lama, saya mengambilnya, memasukkannya dalam kantong, kemudian mulai menyusun rencana..

Uang ini akan saya gunakan untuk membeli pisang dan tepung, kemudian saya akan menjual pisang goreng di sekolah. Hasil penjualannya akan saya putar lagi hingga dalam sehari saya bisa menjual 10 sisir pisang goreng, 100 sisir, 200 sisir, dan seterusnya. Kemudian saya akan membeli kulkas untuk minuman botol, kemudian saya akan membuka kantin pisang goreng dan minuman botol di sekolah. Kemudian saya akan mengembangkan usaha saya menjadi warung makan dengan menu ayam goreng, terus memutar modalnya hingga akhirnya saya memiliki restoran dengan menu makanan dan minuman yang bervariasi. Restoran itu akan saya namakan “McDonald’s”. Keuntungan dari restoran itu akan saya gunakan lagi untuk membuka toko kelontong. Nama tokonya nanti adalah “Seven-Eleven”.

Super.

Saya kemudian berlalu dari lokasi tempat si 10 ribu teronggok, sambil melihat kiri kanan seandainya yang punya sedang mencari uangnya yang jatuh, dan mempercepat langkah saya. Saya akan menjadi jutawan, JUTAWAN mameeeenn, 10 ribu ini adalah pintu sukses bagi karir saya sebagai pengusaha. Wajah saya akan muncul di majalah Forbes, Times, dan majalah Bobo. Saya bahkan akan memiliki stasiun tv sendiri, yang program-programnya menarik dan seru. Nanti akan saya namakan Trans TV, asal katanya dari transmigrasi. Kenapa transmigrasi ? Karena menurut saya transimgrasi itu keren. Saya gak tahu artinya, tapi terdengar keren. Mungkin semacam Transformers.

Tiba di rumah, saya menyimpan uang itu di dalam lemari saya. Lebih tepatnya laci meja, karena saya tidak punya lemari baju waktu itu. “Hai 10 ribu perak yang menawan, besok kita akan memulai kerajaan bisnis kita. HUAHAHAHAHAAA..!!”

Malam itu, saya bermimpi tentang seorang badut mengerikan dengan rambut keriting dan senyuman horor, namanya Ronald..

Besoknya ada kabar buruk. Kakak saya kehilangan uang, dan jumlahnya besar, lebih dari 100 ribu. Katanya dompetnya jatuh di jalan saat pulang dari kampus. Awalnya saya hanya prihatin, tapi ketika saya teringat dengan uang 10 ribu yang saya temukan di jalan kemarin, saya mulai merasa bersalah. Jangan-jangan ini ada hubungannya. Jangan-jangan ini adalah katula. Katula itu bahasa Manado untuk karma, tapi saya saat itu belum mengenal istilah karma. Saya pun membuka laci meja saya, si 10 ribu masih ada disitu. Saat itu saya seolah mendapat bisikan, bahwa seharusnya saya tidak mengambil uang itu karena yang punya bisa saja kembali ke TKP untuk mencarinya. Ah, perasaan bersalah saya semakin besar. Tapi mengembalikannya ke TKP juga tidak mungkin karena yang punya pasti sudah tidak akan mencari disana lagi. Saya bingung, harus saya kemanakan uang yang bukan hak saya ini? Haruskah saya pergi ke hutan? Atau lari ke pantai?

Di tengah kebingungan itu, saya mendapat ilham untuk memasukkannya ke dalam kotak sumbangan. Kotak sumbangan apa saja, mau masjid kek, gereja kek, panti asuhan kek, pokoknya kotak sumbangan. Saya takut akan terjadi hal lain yang buruk akibat perbuatan saya. Kemudian, si ganteng yang masih polos dan lugu ini segera mencari kotak sumbangan terdekat, dan kebetulan begitu keluar rumah berpapasan dengan seorang lelaki berpeci yang sedang menenteng sebuah kotak kayu berwarna hijau. Lelaki itu kira-kira berumur 70-an, bajunya sederhana namun putih bersih. Wajahnya begitu teduh, kerut-kerut di dahinya menunjukkan begitu banyak beban yang ditanggung dalam pikirannya, namun senyumnya ketika bertemu mata dengan saya begitu menyenangkan. Saya mendekatinya.

“Assalamualaikum pak”

“Waalaikumsalam dek”, jawabnya sambil tersenyum.

“Adek ganteng sekali, pasti keturunan indo ya?”

Saya menyodorkan tangan saya, dia menyodorkan kotak hijaunya, kami pun sodor-sodoran dengan merapal jurus kung-fu masing-masing !

Saya memasukkan uang 10 ribu itu ke dalam kotak hijau, di kotak itu ada tulisan Panti Asuhan apa gitu, pokoknya Panti Asuhan. Biarlah kerajaan bisnis saya akan saya bangun dengan uang yang halal. Saya kemudian menghapus khayalan saya tentang restoran, toko kelontong, dan stasiun tv.

“Terima kasih dek”, kata si bapak.

“Sama-sama pak. Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam”

Saya bersalaman dengan si bapak kemudian melangkah kembali ke rumah dengan hati yang sudah tenang. Tidak ada lagi beban itu, menyimpan uang yang seharusnya milik orang lain. Sebelum masuk ke halaman rumah, saya menoleh ke belakang, mencari-cari si bapak tua tadi. Tidak ada! Bahkan bayangannya pun tidak terlihat lagi. Si bapak bagaikan lenyap ditelan bumi. Saya panik! Bukankah ditelan bumi adalah peristiwa yang tidak main-main?? Hueeeehh…

Ini adalah salah satu peristiwa ajaib dalam hidup saya. Sejak saat itu, saya tidak pernah lagi mengambil uang yang kebetulan saya temukan di jalan atau dimana pun. Saat itu, 15 tahun yang lalu, saya mulai memahami tentang hukum sebab-akibat.

Hukum karma.

About Regy Kurniawan

Highlander

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: