Kakak Kucing Yang Baik Hati

Suatu kali saya berenang di kolam Citos, Cilandak Town Square, yang ukurannya segede ukuran standar olimpiade. Kolam ini cocok banget buat latihan renang malem-malem karena aernya anget, dan tentunya panjang kolam 50 meter adalah sebuah kelebihan tersendiri. Saya memilih kolam renang Citos buat melancarkan freestyle saya karena kolam ini punya warung mie ayam paling enak se-ibukota. Iye gak nyambung.

Waktu lagi makan mie ayam di tepi kolam sebelum nyebur, tiba-tiba seekor kucing datang mendekat. Sepertinya dia “kukamsi,” kucing kolam sini. Untuk seekor kucing, nyalinya gede karena tinggal di kolam, kucing kan takut aer. Kucing ini duduk di deket kaki kursi, menatap mata saya tanpa berkedip, berharap saya bersedia menyumbangkan bakso bonus mie ayam yang cuma dua biji itu.

Dari pengamatan saya, sepertinya itu kucing remaja. Badannya atletis, tidak gendut, dan terlihat lincah. Mungkin dia rajin renang. Waktu mau saya pegang si kucing mundur sambil ngangkat cakarnya. Ya ya, ini kucing dengan naluri petarung sejati, bukan piaraan warung mie ayam. Dia selalu menghindar setiap kali saya mencoba mendekat, tapi gak mau pergi. Selalu kembali ke posisinya di dekat kaki kursi, menatap, meminta. Saya tersentuh melihat matanya yang mirip mata kucing itu. Sepotong bakso pun saya jatuhkan ke arahnya.

Bakso itu menggelinding pelan, lalu digigit oleh si kucing. Tapi tidak dimakan! Digigit, terus dia lari-lari kecil ke arah warung mie dan menghilang di kegelapan. Anjrit, makan aja harus sembunyi-sembunyi. Saya jadi inget dengan kawan asrama saya waktu di Jogja dulu, dia saking pelitnya kalo makan harus di dalam kamar trus pintunya dikunci. Kucing juga ternyata bisa pelit dan insecure.

Saya melanjutkan makan, tapi saya merasa kayak ada yang memperhatikan. Ternyata si kucing udah nongol lagi, deket kaki kursi, menatap tanpa kedip ke arah saya. Mau lagi pus? Kenapa ya namanya pus? Sadar gak sih semua kucing kalo dipanggil pus pasti noleh. Di Arab gitu juga gak ya?

Sepotong bakso kembali menggelinding di lantai, digigit, dibawa pergi. Tidak lama kemudian doski balik lagi. Begitu seterusnya hingga bakso di mangkok saya tinggal sepotong. Saya penasaran, dan kali ini si kucing bakal saya buntutin. Jangan-jangan baksonya ditumpuk dulu sampe banyak terus dimakan sekaligus. Ada loh orang kayak gitu. Hahaha.

Potongan bakso terakhir menggelinding. Hap! Umpan dimakan, si kucing pun lari-lari kecil menuju markasnya. Dari belakang, seorang cowok ganteng membuntutinya. Dan, mata saya berkaca-kaca melihat apa yang terjadi di markas si kucing.

Bakso yang digigitnya dilepaskan dari mulut. Dua ekor anak kucing berlari-lari gembira menyambutnya dan langsung memakan potongan bakso terakhir itu. Si kucing kukamsi hanya diam menonton anak-anak kucing itu makan dengan lahap, menghabiskan bakso yang dibawanya tanpa sisa sedikit pun.

Anjrit.

Ini adalah momen paling mengharukan kedua dalam hidup saya setelah wisuda. Yang bikin saya lebih terharu, kucing gede itu bukan ibunya. Setidaknya, gak keliatan kayak ibu-ibu. Dia masih remaja. Asumsi saya, itu kakaknya mereka. Uh, i love you kakak kucing!

Saya belajar tiga hal dari si kucing kukamsi: ilmu ikhlas, pengorbanan, dan cara minta bakso. Kejadian itu membuat saya makin cinta dengan kucing, dan makin benci sama SBY.

About Regy Kurniawan

Highlander

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: