Happy Birthday Mom

Banyak pasangan yang bertengkar cuma karena hal sepele: komunikasi. Pun banyak keluarga yang berantakan karena hal yang sama. Contohnya? Yang paling sederhana adalah berantem gara-gara masalah angkat-mengangkat telepon atau balas-membalas SMS.

Telepon gak diangkat, marah. SMS telat dibalas, marah. Akibatnya bisa sangat fatal apabila terjadi saat yang bersangkutan sedang ulang tahun. Bisa dicuekin seharian, atau jadi trigger untuk mengungkit pertengkaran-pertengkaran di masa lalu.

Ibu saya berbeda. Kemarin beliau berulang tahun yang ke-59. Ya, penghujung usia 50. Tidak ada pesta, tidak ada perayaan. Ibu saya bukan tipe orang yang senang merayakan ulang tahunnya. “Cukup kirim doa,” katanya. Kirim doa melalui Tuhan, bukan melalui facebook. Itu sudah cukup. Tidak perlu ada kado, tidak perlu ada macam-macam.

Kemarin, sebelum sholat Jumat saya menelepon ibu saya 3 kali dan semuanya berakhir dengan mailbox. Oh, mungkin sedang sibuk atau tidak mendengar bunyi ringtone-nya. Setelah jumatan, saya coba menelepon lagi. Masih tidak diangkat. Saya bertanya pada kakak tertua saya, ternyata dia juga mengalami hal yang sama.

Saya lalu mengirim pesan melalui BBM, “Selamat ulang tahun mom, semoga panjang umur, selalu sehat, tetap awet muda.”

Tidak sampai 1 menit, muncul balasan dari ibu saya, “Amin, alhamdulillah.”

Saya tersenyum kecil. Mata saya berkaca-kaca. Saya tahu, ibu saya tidak mengangkat telepon bukan karena sibuk. Dia akan selalu punya waktu untuk anak-anaknya. Dia sengaja tidak mengangkat telepon karena dia tahu rasa rindunya kepada kami, anak-anaknya, terlalu besar. Dia tahu, percuma dia mengangkat telepon, karena detik berikut setelah kata “Halo,” suaranya akan tertahan di kerongkongan, diam, lalu menangis.

Saya teringat ketika pertama kali akan merantau keluar Manado 13 tahun yang lalu. Setelah 17 tahun saya hidup bersamanya, hari itu, di pelabuhan Bitung, saya akan meninggalkannya untuk kuliah di Jogja. Awalnya semua baik-baik saja. Ibu saya terlihat biasa-biasa saja. Hingga ketika saya hendak berpamitan untuk naik kapal, ibu mendadak menghilang dari barisan pengantar. Saya celingak-celinguk mencarinya, tapi ibu saya tidak terlihat. Dengan gontai, saya melangkah menaiki tangga KM Lambelu. Awalnya saya kecewa, namun setelah ayah saya memberi pengertian, saya sadar.

Dia benci perpisahan. Dia tidak sanggup melihat orang yang sehari-hari bersamanya pergi. Dia memilih menunggu di mobil, tidak mau melihat saya melambaikan tangan dari atas dek.

*****

Komunikasi bukan sekedar berbagi kata. Komunikasi bukan sekedar berbagi kabar yang akhirnya menjadi rutinitas. Bagi saya, komunikasi adalah saling memahami melampaui batas bahasa. Ketika ibu saya tidak mengangkat telepon, saat itulah saya sedang berkomunikasi dengannya. :)

Selamat ulang tahun mom, i love you.

About Regy Kurniawan

Highlander

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: