Pertama Kali Masuk Rumah Hantu

“Main ke rumah hantu yuk di La Piazza?” kata Adra, temen #ACI2011 saya. MAIN KE RUMAH HANTU? Sejak kapan rumah hantu adalah tempat bermain???

“Ayok!” Odre, Titiw, dan Mahe langsung menjawab tanpa memberi saya waktu untuk memberikan alternatif tempat bermain lain yang lebih masuk akal seperti Kidzania.

“Gimana Reg?” tanya mereka.

“Boleh deh,” jawab saya dengan wajah yakin dan sok berani, sambil berdoa dalam hati semoga pada hari-H La Piazza ditutup karena ada simulasi tsunami. Doa saya dicuekin Tuhan. Read More…

Sari Pati Ketek

Tau gak Brands Sari Pati Ay*am? Pernah nyoba minum? Tau rasanya kan? Saya curiga itu bukan sari pati ayam tapi sari pati ketek men. Diperas dari ketek pria dewasa menggunakan alat bekam. Jadi alatnya dipasang di ketek, dipompa-pompa sampe gembung, trus cussss ditusuk jarum dan mengalirlah sari ketek. Sari ketek ini kemudian ditampung dan dikemas dengan menarik dalam botol kaca lalu dipasarkan. Gak percaya? Cobain aja tuh si brands, yang bakal terlintas di kepala adalah:

“ANJIR INI RASANYA KETEK BANGET!!!”

Tapi khasiat minuman ini luar biasa loh. Kalo lagi capek, bakalan merasa segar seketika. Kalo lagi sakit, bakal sembuh dalam sekejap. Dan kalo lagi punya masalah sama pacar, ya diomongin baek-baek lah. Emang masalahnya seberat apa sih?

Dengan berbagai khasiat yang dikandung sari ketek ini, Indonesia seharusnya memberi perhatian lebih serius. Ini adalah esens ajaib. Mungkin rahasia ramuan Panoramix yang membuat Asterix bisa menggila dalam seketika adalah sari pati ketek. Mungkin Lance Armstrong sebenarnya gak pake doping, tapi nyambungin selang langsung ke keteknya saat dia lagi balapan. Mungkin, sari pati ketek adalah rahasia Tuhan yang yang terjepit dengan sangat sempurna sehingga kita tidak menyadarinya.

Untuk itu, presiden harus memberi perhatian khusus pada sari ketek. Misalnya dengan mengangkat MENRISTEK, Menteri Riset Ketek, yang berkompeten di bidang perketekan. Media juga bisa berpartisipasi, misalnya menggarap reality show berjudul “Indonesia Mencari Ketek.” Setiap peserta bersaing untuk menghasilkan sari ketek yang kental, lezat, dan berkhasiat.

Sari ketek nantinya bisa disajikan sebagai minuman teman makan siang. Misalnya minuman bersoda ada “Ketek Cola”, dan minuman ringan ada “Teh Ketek.” Untuk minuman keras, ada “Anggur Kolesom Cap Ketek Tua.” Ya, ini adalah fermentasi sari ketek yang sudah sangat tua, fermentasinya berlangsung secara alami dan harganya akan sangat mahal. Karena, makin tua manusia, makin sedikit sari keteknya. Langka!

Begitu banyak potensi yang bisa digali dari sebuah ketek. Begitu banyak rahasia yang tersimpan dalam sari patinya. Mari kawan, bersama kita jaga potensi yang kita miliki. Jangan cemari dia dengan deodoran. Ketek tidak suka bahan kimia. Mereka mengkontaminasi sari pati ketek sehingga kehilangan khasiatnya.

Ingat.
Men ketek in odore sano!
Dalam ketek yang sehat terdapat aroma yang kuat.

#saveketek

Birokrasi: Mentele-telekan Hal Sepele

“Selamat siang pak.”
“Siang. Ada apa?”
“Saya Regy pak, dari konsultan Amdal PT Alpukat Super.”
“Oh iya ada yang bisa dibantu pak Regy?”
“Ini pak, saya sedang menyusun dokumen Amdal untuk kebun singkong PT Srikaya Bersatu, kebetulan saya butuh data tentang Profil Kesehatan Tahun 2013 Kabupaten Pepaya ini. Bisa dibantu pak?”

Si bapak itu menatap menyelidik. Sebelumnya saya sudah langsung datang ke ruangan bidang Sistem Informasi Kesehatan sesuai arahan dari resepsionis, katanya kalo butuh data di situ tempatnya. Tapi di ruangan itu saya ditolak, katanya harus ke Bagian Umum dulu, masukin surat dan minta acc disana. Maka di situlah saya berada, mematung, salah tingkah, diperhatikan oleh sekitar 11 orang pegawai berseragam coklat Dinas Kesehatan Kabupaten Pepaya yang sedang asyik ngerumpi. Obrolan mereka mendadak terhenti ketika saya masuk. 11 pasang mata itu menatap saya bersama-sama. Read More…

Tukang Klakson Lampu Ijo

Ini adalah profesi sampingan (kebanyakan) pria yang hidupnya (kebanyakan) di jalanan kota-kota besar dengan lalu lintas padat. Saya yakin kita semua tahu atau menyadari eksistensi profesi ini: tukang klakson lampu ijo.

Di setiap perempatan mana pun, kita pasti akan bertemu dengan mereka. Klaksoner ini adalah orang-orang yang refleksnya sudah sangat terlatih. Ketika melihat lampu ijo menyala, mereka nglakson. Bukan ngegas kendaraannya terus jalan, bukan, mereka nglakson. NGLAKSON.

Rese kan?

Saya selalu bertemu dengan orang-orang kampret ini hampir di setiap lampu merah. Mereka punya kemampuan memencet klakson lebih cepat daripada kecepatan cahaya lampu ijo mencapai retina mata. Bayangkan, begitu lampu ijo nyala, 0,00000000000000000000000001 detik kemudian pasti sudah ada yg nglakson. TIIIIIIITTTT! Monyet.

Pernah, suatu ketika di siang yang panas, saya sedang berhenti di lampu merah daerah Menteng pake motor. Di samping saya ada bapak-bapak dengan jaket kulit coklat yang sudah usang terlihat santai menunggu lampu ijo menyala. Di situ cuma ada motor saya, motor dia, dan satu biji mobil di belakang kita. Iya, kita paling depan. Tau gak apa yang terjadi begitu lampu ijo nyala?

Si bapak NGLAKSON.

Dia nglakson men! Padahal di depan dia gak ada siapa-siapa!! Kosong melompong. Bukannya langsung jalan, dia sempetin nglakson dulu! Saya gagal paham, buat siapa klakson itu ditujukan. Masak buat Tuhan?

Saya penasaran, apa yang membuat mereka begitu terobsesi dengan lampu ijo. Setiap kali ketemu perempatan, saya selalu berusaha menerobos ke saf paling depan, dan mereka selalu ada di sana! Menanti lampu ijo menyala untuk diklakson secepat mungkin. Karena kesel, saya memutuskan untuk menjadi tukang klaksonnya tukang klakson lampu ijo.

God Bless You

Kita sering pake kalimat populer ini. GBU. God bless you. God bless. Pakenya suka-suka. Orang ulang tahun, kawin, wisuda, jadian, balikan sama mantan, nama grup band, semuanya pada pake. Belum afdhol rasanya sebuah ucapan “selamat bla bla bla” kalo belum ditutup dengan GBU.

Nah.

Bagaimana.

Jika.

Tuhan.

Gak pengen.

Memberkati?

JRENG JREEEEENG!!!

Gimana kalo Tuhan gak mau ngasih berkatnya? Gimana kalo Tuhan punya pertimbangan sendiri soal ngasih berkat atau gak? Gimana kalo Dia udah punya rencana soal itu? Gimana kalo Tuhan tersinggung karena kita nyuruh-nyuruh Dia buat memberkati orang lain?

Kali aja Tuhan maunya kita permisi dulu, nanya dulu, minta persetujuannya, boleh gak bilang kalimat itu? Sayangnya kita suka mendahului Tuhan. Menggunakan nama-Nya untuk mempermanis ungkapan selamat kita yang sudah berbunga-bunga itu secara semena-mena.

Gak salah sih, tapi bukankah lebih sopan sama Tuhan kalo kita tambahkan kata “MAY” di depannya?

May God Bless You. Semoga Tuhan Memberkatimu. Putting “May” first changes the sentence from a command to a request. Dengan begitu kita ngasih kebebasan buat Tuhan untuk ngasih berkat-Nya atau gak. Terserah Dia dong, yang punya berkat kan Dia.

Tuhan memerintah. Tidak diperintah.

Udah sih gitu aja.

GBU.